MAHASISWA PGSD WATES BERLATIH BAHASA DENGAN BERMAIN PERAN

Mahasiswa PGSD Kampus Wates angkatan 2015 mementaskan pertunjukan drama sebagai tugas dari mata kuliah Bahasa Indonesia untuk SD yang diampu oleh HB. Sumardi pada (14/12/2015) di ruang perkuliahan 1. Sebagai dosen pengampu, HB Sumardi menyampaikan bawa pentas drama ini Pentas drama sebagai wujud praktek langsung dari pengenalan tentang kesusasteraan dengan mengambil tema bebas dengan durasi waktu 10-15 menit. Setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang. “Setiap mahasiswa akan memperankan tokoh yang didukung dengan properti yang mengambarkan peran, setting tempat dan alur cerita. Dan untuk mendukung suasana dapat menggunakan tambahan berupa audiovisual,” ungkap Sumardi.
Pada penampilan perdana ditampilkan cerita tentang asal muasal gading gajah. Pada kelompok ini 5 mahasiswa yang masing-masing memerankan sebagai gajah, singa, macan, dan pohon. Diceritakan bahwa gajah yang memiliki tubuh besar tapi sering dianggap hewan yang lemah oleh singa dan macan. Gajah merasa sedih karena sering diejek oleh singa dan macan. Dan dia meminta kepada sang pencipta dengan bantuan pohon untuk diberikan sesuatu benda yang tajam seperti taring atau kuku seperti macan dan singa. Dan diberilah gajah dengan gading.
Lain lagi dengan kelompok 5 yang menampilkan cinta di musim pop mie. Drama yang menceritakan tentang kerajaan pop mie yang rajanya meninggal dan meninggalkan 2 dua istri. Ke dua istri ini hidupnya tidak akur. Istri ke dua ini memiliki 2 putri yang bernama Culis dan Sari. Sari memiliki keterbatasan dengan tidak bisa bicara (gagu). Istri ke dua ini hanya menyayangi Culis dan tidak menghiraukan Sari. Hingga pada suatu saat Sari difitnah oleh Culis sehingga mendapat kutukan oleh ibunya dan dibuang di hutan. Selama di hutan, Sari bertemu dengan nenek penyihir baik hati yang membebaskan Sari dari kutukan. Selamatlah Sari dari kutukan. Dia kembali ke Kerajaan Pop Mie dan akhirnya ibunya menyadarinya kesalahannnya dan hidup rukun bersama anak dan istri pertama.
Wanda yang memerankan Culis cukup mendalami peran yang dilakoninya. Wanda selaku pemeran Culis menyampaikan bahwa drama ini cukup nge-pop dan membutuhkan persiapan kurang lebih 2 minggu.”Untuk mempersingkat durasi, pada saat meninggalnya Raja kita buat dalam bentuk video dan kita juga menyelipkan backsound lagu untuk setiap adegan biar lebih ‘hidup’. Kita juga menyiapkan koreografi tarian agar drama ini lebih meriah lagi,”ungkap Wanda.
Dalam penampilan drama ini banyak tema yang diusung oleh mahasiswa PGSD Kampus Wates. Mulai dari tema anak berkebutuhan khusus yang dikucilkan teman temannya, tema kebhinekaan Indonesia, tema cerita anak thumbellina dan penyihir, dan tema bahaya petasan.